JAMBI SMART — Gubernur Dedi Mulyadi kembali membuat gebrakan besar dalam penataan wilayah di Jawa Barat. Kali ini, pria yang akrab disapa KDM itu mengungkap rencana ambisius untuk mengubah kawasan Jalan Tuparev hingga Alun-Alun Karawang menjadi kawasan Kota Tua Karawang yang tertata rapi, modern, namun tetap sarat nilai budaya Sunda.
Rencana besar tersebut disampaikan langsung oleh Dedi Mulyadi saat menghadiri Kirab Budaya Tatar Pasundan di kawasan Alun-Alun Karawang. Di hadapan ribuan masyarakat yang memadati lokasi acara, KDM menegaskan bahwa penataan pusat kota akan dilakukan bersama Pemerintah Kabupaten Karawang demi menghadirkan wajah kota yang lebih nyaman, indah, dan membanggakan masyarakat.
Salah satu proyek yang paling menyita perhatian publik ialah pembangunan kawasan “Pelataran Cinta” yang akan membentang dari Stasiun Karawang hingga Alun-Alun Karawang. Proyek tersebut disebut akan menjadi ikon baru ruang publik di Karawang dan ditargetkan mulai direalisasikan pada awal tahun 2027.
“Karawang harus punya identitas kuat. Kota ini tidak hanya berkembang secara industri, tetapi juga harus memiliki wajah budaya dan ruang publik yang nyaman untuk masyarakat,” ujar Dedi Mulyadi dalam sambutannya.
Tak hanya mempercantik kawasan kota, Dedi juga menyoroti persoalan kabel utilitas yang selama ini dinilai membuat kawasan Jalan Tuparev terlihat semrawut. Ia mengaku telah berbicara langsung dengan pihak PLN, agar kabel-kabel listrik di kawasan tersebut nantinya ditanam di bawah tanah guna menciptakan tata kota yang lebih bersih dan modern.
Selain itu, bangunan pertokoan di sepanjang Jalan Tuparev juga direncanakan akan ditata dengan desain yang seragam. Konsep arsitektur kawasan akan mengusung nuansa kota tua khas Sunda yang dipadukan dengan sentuhan modern, sehingga diharapkan mampu menghadirkan daya tarik wisata baru di Jawa Barat.
Langkah besar ini dinilai menjadi bagian dari visi Dedi Mulyadi dalam membangun kota-kota di Jawa Barat agar tidak kehilangan identitas budaya di tengah pesatnya pembangunan urban dan industri.
Menurutnya, penataan kota bukan sekadar soal estetika visual, tetapi juga menyangkut pembangunan karakter daerah, kenyamanan masyarakat, hingga penguatan nilai sejarah dan budaya lokal.
Dengan konsep tersebut, Karawang diproyeksikan tidak hanya dikenal sebagai kawasan industri nasional, tetapi juga sebagai kota budaya modern yang memiliki ruang publik humanis dan berkelas.
