JAMBI SMART – Di tengah barisan para pemimpin Asia Tenggara yang mengenakan pakaian nasional Filipina, Barong Tagalog, satu sosok tampil paling mencuri perhatian dalam gala dinner KTT ke-48 ASEAN di Mactan Expo, Cebu, Filipina, Jumat malam (8/5/2026). Sosok itu adalah Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto.
Semua pemimpin ASEAN malam itu mengenakan Barong Tagalog sebagai bentuk penghormatan kepada tuan rumah Filipina. Namun, Presiden Prabowo tampil dengan ciri khas berbeda. Busana yang dikenakannya dipadukan dengan sentuhan bordir bernuansa motif batik Indonesia , sebuah detail artistik yang bukan hanya memperindah penampilan, tetapi juga membawa pesan diplomasi budaya yang kuat.
Menurut keterangan Kantor Sekretariat Presiden, desain tersebut menampilkan perpaduan warisan budaya dan keahlian kriya Indonesia–Filipina, sebagai simbol harmoni dan persahabatan dua bangsa serumpun di Asia Tenggara.
Presiden Prabowo tiba di lokasi acara menggunakan kendaraan kepresidenan Maung Garuda dan disambut langsung oleh Presiden Filipina, Ferdinand Romualdez Marcos Jr., bersama Ibu Negara Marie Louise Cacho Araneta Marcos.
Dalam prosesi penyambutan yang berlangsung hangat dan penuh keakraban, kedua pemimpin sempat berbincang santai sebelum memasuki ruang jamuan utama.
Acara gala dinner yang digelar di Hall 2 dan 3 Mactan Expo tersebut menjadi penutup resmi rangkaian KTT ASEAN ke-48 yang berlangsung pada 6–8 Mei 2026 di Cebu, Filipina. Dalam sambutannya, Presiden Marcos Jr. menegaskan pentingnya menjaga persatuan, solidaritas, dan kolaborasi ASEAN di tengah tantangan global yang terus berkembang.
Dalam sesi jamuan makan malam, Presiden Prabowo duduk berdampingan dengan Sultan Brunei Darussalam, Hassanal Bolkiah, serta Perdana Menteri Kamboja, Hun Manet. Suasana penuh persahabatan terasa sepanjang acara, terlebih ketika para delegasi disuguhi pertunjukan budaya khas Filipina yang menampilkan kekayaan seni dan tradisi negara tuan rumah.
Namun di balik kemegahan gala dinner itu, pilihan busana Prabowo menjadi simbol yang paling membekas. Ketika seluruh pemimpin ASEAN tampil dengan Barong Tagalog serupa, Prabowo justru menghadirkan identitas Indonesia tanpa mengurangi penghormatan kepada Filipina.
Sentuhan batik pada Barong Tagalog yang dikenakannya seolah menyampaikan pesan tanpa kata: bahwa diplomasi tidak selalu hadir melalui pidato panjang atau pertemuan resmi, tetapi juga melalui budaya, identitas, dan penghormatan antarsesama bangsa.
Di malam paling bersejarah KTT Cebu itu, Indonesia tidak hanya hadir sebagai peserta ASEAN — tetapi tampil membawa karakter, warisan budaya, dan jati diri bangsa.
