Jakarta – Ajang BTN Jakarta International Marathon (Jakim) 2026 menyisakan duka setelah seorang peserta kategori Half Marathon meninggal dunia usai mengalami kondisi darurat saat mengikuti perlombaan pada Minggu (14/6/2026).
Peserta bernama Agus Putranadi, pelari asal Lombok, Nusa Tenggara Barat, dilaporkan kolaps di Kilometer 14 lintasan lomba. Setelah kejadian tersebut, Agus sempat mendapatkan penanganan dan dilarikan ke Rumah Sakit Siloam Kebon Jeruk, namun nyawanya tidak berhasil diselamatkan.
Pertanyaan soal Respons Medis Muncul
Peristiwa tersebut memicu perhatian publik, terutama terkait kesiapan dan kecepatan respons medis dalam ajang olahraga dengan tingkat aktivitas fisik tinggi seperti marathon.
Sejumlah peserta dan warganet mempertanyakan standar penanganan darurat di area lintasan, terutama setelah muncul informasi adanya beberapa peserta lain yang juga mengalami kelelahan hingga pingsan selama perlombaan.
Pertanyaan utama yang muncul adalah sejauh mana kesiapan tim medis, waktu respons, serta fasilitas pertolongan pertama yang tersedia di sepanjang rute lomba.
Penyelenggara Klaim Sistem Medis Sesuai Standar
Medical Director BTN Jakarta International Marathon periode 2023–2026, dr. Andhika Raspati, menyampaikan bahwa tim medis telah bekerja sesuai prosedur yang berlaku.
Ia menjelaskan bahwa personel medis yang bertugas memiliki kompetensi sesuai kebutuhan event dan jumlah tenaga medis tahun ini juga mengalami peningkatan dibandingkan penyelenggaraan sebelumnya.
Pihak terkait memastikan penanganan terhadap peserta dilakukan sesuai mekanisme yang telah disiapkan dalam penyelenggaraan lomba.
Jenazah Dipulangkan ke Lombok
Setelah dinyatakan meninggal dunia, jenazah Agus Putranadi kemudian dipulangkan oleh pihak keluarga ke kampung halamannya di Lombok, Nusa Tenggara Barat, untuk dimakamkan.
Kepergian Agus menjadi duka bagi keluarga, komunitas pelari, serta peserta BTN Jakarta Marathon.
Evaluasi Keamanan Event Lari Jarak Jauh
Insiden ini kembali membuka diskusi mengenai pentingnya standar keamanan medis dalam penyelenggaraan marathon di Indonesia.
Event lari jarak jauh membutuhkan kesiapan khusus karena melibatkan aktivitas fisik berat dalam waktu panjang.
Ke depan, penyelenggara event olahraga diharapkan terus memperkuat sistem keamanan, termasuk peningkatan jumlah tenaga medis, penyebaran alat pertolongan darurat seperti AED, serta pelatihan penanganan kondisi kritis bagi petugas dan relawan.
Keselamatan peserta harus menjadi prioritas utama agar perkembangan olahraga lari di Indonesia dapat berjalan beriringan dengan standar keamanan yang semakin baik.
