JAMBI SMART – mempercepat pengembangan program Hilirisasi Ayam Terintegrasi (HAT) di Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, sebagai langkah memperkuat produksi unggas nasional sekaligus membuka peluang usaha baru bagi pelaku subsektor peternakan.
Program tersebut diharapkan mampu menghadirkan ekosistem peternakan terintegrasi mulai dari pembibitan, penyediaan pakan, hingga pengolahan hasil ternak, sehingga menciptakan nilai tambah dan peluang ekonomi baru di daerah.
Direktur Hilirisasi Hasil Peternakan Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan, Makmun, mengatakan program HAT dirancang untuk memastikan sistem produksi unggas yang efisien dan berkelanjutan.
“Program HAT ini kami dorong sebagai model pengembangan peternakan terintegrasi dari hulu hingga hilir, sehingga mampu meningkatkan efisiensi, memperkuat rantai pasok, dan memberikan nilai tambah bagi daerah,” ujar Makmun dalam rapat koordinasi di Kabupaten Bima, Jumat (1/5/2026).
Ia menjelaskan, pemerintah pusat terus memperkuat sinergi dengan pemerintah daerah terkait skema pemanfaatan lahan dan implementasi program agar dapat berjalan cepat dan tepat sasaran.
“Melalui sinergi pusat dan daerah, kami ingin memastikan bahwa program ini tidak hanya berjalan secara teknis, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi yang luas,” katanya.
Hasil survei menunjukkan sejumlah lokasi di Pulau Sumbawa memiliki potensi besar untuk pengembangan kawasan peternakan terintegrasi. Di Kabupaten Bima, empat lokasi untuk breeding parent stock (PS) dan satu lokasi pabrik pakan dinilai memenuhi persyaratan teknis peternakan.
Bupati Bima, Ady Mahyudi, menegaskan komitmen pemerintah daerah dalam mendukung percepatan implementasi program tersebut.
“Kami sangat mendukung pelaksanaan program HAT di Kabupaten Bima dan siap mempercepat implementasinya, termasuk dalam penyediaan lahan dan fasilitasi perizinan,” ujar Ady Mahyudi.
Ia juga menyatakan kesiapan pemerintah daerah menyediakan lahan guna mendukung program strategis nasional tersebut.
Sementara itu, Wakil Bupati Bima, Irfan Zubaedy, menekankan pentingnya koordinasi lintas sektor agar implementasi program berjalan efektif dan memberikan manfaat maksimal bagi masyarakat.
“Dengan langkah terintegrasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, BUMN pangan, BUMD, dan pelaku usaha lokal, diharapkan peternak tidak lagi berjalan sendiri, melainkan menjadi bagian dari ekosistem usaha yang kuat dan berkelanjutan guna mendukung ketahanan pangan nasional,” ujarnya.
Dalam tahap awal pengembangan, direncanakan pembangunan dua unit farm PS broiler dengan populasi sekitar 60 ribu ekor yang tersebar di dua lokasi di Pulau Sumbawa. Selain itu, akan dikembangkan unit hatchery guna mendukung produksi bibit unggas secara berkelanjutan.
Pengembangan kawasan tersebut juga dinilai memiliki potensi pasar yang luas, tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan lokal NTB, tetapi juga menjangkau wilayah Nusa Tenggara Timur hingga Timor Leste.
Sementara itu, hasil peninjauan di wilayah lain seperti Kabupaten Sumbawa dan Dompu menunjukkan kesiapan awal pengembangan kawasan HAT yang masih dalam tahap pendalaman teknis dan penyusunan skema pemanfaatan lahan.
Kementerian Pertanian bersama pemerintah daerah juga terus mendorong pola kerja sama pemanfaatan lahan yang memberikan kepastian hukum sekaligus manfaat ekonomi bagi daerah.
Dengan percepatan implementasi tersebut, Kementerian Pertanian menilai program Hilirisasi Ayam Terintegrasi tidak hanya memperkuat produksi unggas nasional, tetapi juga berpotensi membuka pusat pertumbuhan ekonomi baru dan meningkatkan daya saing subsektor peternakan Indonesia secara berkelanjutan.
